Tag: global warming

Rencana Perubahan Iklim India yang Tertunda Memicu Perdebatan di COP30

Rencana Perubahan Iklim India yang Tertunda Memicu Perdebatan di COP30

India Menjadi Sorotan di COP30

Pada COP30 yang berlangsung di Belem, Brazil, semua mata tertuju pada India, negara ketiga penghasil karbon terbesar di dunia. Hingga kini, India belum menyerahkan rencana aksi iklim terbarunya, yang dikenal sebagai Nationally Determined Contributions (NDCs). Rencana ini seharusnya diperbarui setiap lima tahun oleh semua negara anggota UNFCCC.

Sementara sekitar 120 dari 196 negara telah menyerahkan NDC terbaru mereka, India masih menunda hingga akhir Desember. Keterlambatan ini menimbulkan keraguan internasional, terutama karena penilaian global menyebut aksi iklim India “sangat kurang memadai”.

NDC yang diperbarui seharusnya mencakup target pengurangan karbon lebih ambisius, mengingat dunia gagal melakukan pemotongan emisi yang cukup untuk mencegah pemanasan global berbahaya.

Target Paris Agreement dan Realitas Emisi

Perjanjian Paris 2015 menetapkan tujuan untuk membatasi kenaikan suhu global rata-rata di bawah 2°C dan berupaya mencapai 1,5°C. Namun, UNEP menyatakan bahwa untuk 2035, emisi tahunan harus berkurang 35%-55% dibanding 2019. Sayangnya, data terbaru menunjukkan hanya 12% pengurangan yang mungkin tercapai jika semua kebijakan diterapkan.

UNEP memperingatkan bahwa kebijakan saat ini akan membuat dunia menuju pemanasan 2,8°C pada abad ini. Dengan kata lain, dunia membutuhkan target pengurangan karbon lebih ambisius dari yang direncanakan.

Tahun Target Pengurangan Emisi (%) Realisasi Saat Ini (%)
2019 0
2035 35-55 12

Alasan Keterlambatan India

Menteri Lingkungan Bhupender Yadav, yang memimpin delegasi India di Belem, menyatakan bahwa India akan menyerahkan NDC terbaru pada akhir Desember. Penundaan ini, menurut banyak analis, berkaitan dengan posisi India dan negara berkembang lainnya: negara kaya harus bertanggung jawab historis untuk mengurangi emisi dan memberikan dukungan finansial besar.

Dalam opini yang diterbitkan di Economic Times, Yadav menekankan bahwa aksi nyata lebih penting daripada diskusi terus-menerus. Ia menekankan, “Negara maju harus mencapai net zero lebih cepat dan menyediakan climate finance dalam skala triliunan, bukan miliaran.”

Negara berkembang berargumen bahwa rencana ambisius tidak akan efektif tanpa dukungan finansial dan teknologi dari negara maju. Masalah ini telah menjadi kontroversi sejak COP terakhir di Baku, ketika negara kaya menawarkan $300 miliar per tahun, sementara negara miskin meminta lebih dari $1 triliun.

Tantangan India dalam Aksi Iklim

Meski India berhasil memenuhi target 50% kapasitas listrik dari energi non-fosil lebih cepat dari jadwal 2030, banyak tantangan tetap ada. Climate Action Tracker menilai target dan aksi iklim India sebagai “sangat tidak memadai”.

Salah satu masalah utama adalah ketergantungan tinggi pada batubara, yang masih menyumbang sekitar 75% dari total pembangkit listrik. Untuk sejalan dengan tujuan 1,5°C, pangsa batubara harus turun setidaknya ke 19%. Selain itu, laporan Climate Change Performance Index menempatkan India pada peringkat 23 dari 63 negara, turun 13 posisi dibanding tahun sebelumnya.

Negara ini belum menetapkan timeline penghapusan batubara nasional, dan penjualan blok batubara baru terus berlangsung, menimbulkan kritik dari komunitas internasional. UN Emissions Gap Report juga menunjukkan peningkatan emisi terbesar di 2024, diikuti oleh China dan Indonesia.

Posisi Global dan Harapan Kedepan

Sementara China, yang biasanya menjadi sekutu India, sudah menyerahkan rencana iklimnya, COP30 kini juga membahas roadmap transisi global dari bahan bakar fosil. Hal ini memicu pertanyaan apakah tekanan global akan mempengaruhi rencana iklim India.

Eropa menekankan perlunya negara berpendapatan tinggi lainnya ikut berkontribusi pada climate finance. Menurut Wopke Hoekstra, komisioner iklim Uni Eropa, beberapa negara dengan GDP per kapita tinggi harus berpartisipasi agar beban tidak sepenuhnya pada Eropa.

India menegaskan posisinya: meski keterlambatan menimbulkan kritik, rencana terbaru akan diserahkan sebelum akhir tahun, dengan harapan dukungan global yang adil.

Kesimpulan

Penundaan India dalam menyerahkan NDC menyoroti ketegangan antara tanggung jawab historis dan kebutuhan negara berkembang. Meski telah mencapai beberapa target, ketergantungan pada batubara tetap menjadi masalah besar. COP30 menjadi panggung penting bagi India untuk menunjukkan komitmen iklim yang seimbang antara aksi nyata dan tuntutan dukungan finansial.

Exit mobile version